Kamis, 20 Juni 2013

TREMATODA

A.     PENGERTIAN TREMATODA
Cacing trematoda banyak ditemukan di RRC, Korea, Jepang, Filipina, Thailand, Vietnam, Taiwan, India, dan Afrika. Beberapa spesies ditemukan di Indonesia seperti Fasciolopsis buski di Kalimantan, Echinostoma di Jawa  dan Sulawesi, HETEROPHYIDAE di Jakarta dan Schistosoma japonicum di Sulawesi Tengah.

1.    Morfologi dan Daur Hidup
Pada umumnya bentuk badan cacing dewasa pipih dorsoventral dan simetris bilateral, tidak mempunyai rongga badan. Ukuran panjang cacing dewasa sangat beraneka ragam dari 1mm sampai kurang lebih 75mm. tanda khas lainnya adalah terdapat 2 buah batil isap, yaitu batil isap mulut dan batil isap perut. Beberapa special mempunyai batil isap genital. Saluran pencernaan enyerupai huruf Y terbalik yang dimulai dengan mulut dan berakhir buntu pada sekum. Pada umumnya trematoda tidak mempunyai alat pernapasan khusus, karena hidupnya secara anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior. Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esophagus, kemudian terdapat seraf yang memanjang di bagian  dorsal,ventral dan lateral badan. Cacing ini bersifat hermafrodit dengan alat reproduksi yang konpleks.
Cacing dewasa hidup di dalam tubuh hospes definitive. Telur diletakkan disaluran hati, rongga usus, paru, pembuluh darah atau di jaringan tempat cacing hidup dan telur biasanya keluar bersama tinja, dahak atau urin. Pada umumnya telur berisi sel telur, hanya pada beberapa spesies telur sudah mengandung mirasidium ( M ) yang mempunyai bulu getar. Didalam air telur menetas bila sudah mengandung mirasidium ( telur matang ). Pada spesies trematoda yang mengeluarkan telur berisi sel telur, telur akan menjadi matang dalam waktu kurang lebih 2-3 minggu. Pada beberapa spesies tremotoda telur matang menetas bila ditelan keong ( hospes peramtara ) dan keluarlah mirasidium yang masuk ke dalam keong; atau telur dapat langsung menetas dan mirasidium berenang dalam air; dalam waktu 24 jam mirasidium harus sudah menemukan keong air agar dapat melanjutkan perkembangannya. Keong air di sini berfungsi sebagai hospes perantara pertama ( HP 1 ). Dalam keong air tersebut mirasidium berkembang menjadi sebuah kantung yang berisi embrio, yang di sebut sporokista ( S ). Spoprokista ini dapat mengandung sporokista lain atau redia ( R );bentuknya berupa kantung yang sudah mempunyai mulut, faring dan sekum. Didalam dompet sporokista II atau redia ( R ), larva berkembang menjadi serkaria ( SK ).
Perkembangan larva alam hospes perantara I mungkin terjadi sebagai berikut :
M         S          R          SK                               : misalnya Clonorchis sinesis
M         S1        S2        SK                               : misalnya Schistosoma
M         S          R1        R2        SK                   : misalnya trematoda lainnya
Serkaria kemudian keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II yang berupa ikan, tumbuh-tumbuhan air, ketam, udang batu dan keong air lainnya, atau dapat menginfeksi hospes definitive secara langsung seperti pada Schitosoma. Dalam hospes perantara II serkaria berubah menjadi metaserkaria yang berbebtuk kista. Hospes definitive mendapat infeksi bila makan hospes perantara II yang mengandung metaserkaria yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi cacing Schistosoma terjadi dengan cara serkaria menembus kulit hospes  definitive yang kemudian berubah menjadi skistosomula, lalu berkembang menjadi cacing dewasa dalam tubuh hospes.

2.  Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan yang disebabkan cacing daun tergantung dari lokalisasi cacing dalam tubuh hospes; selain itu ada juga pengaruh rangsangan setempat dan zat toksin di keluarkan oleh cacing. Reaksi sistemik terjadi karena absorbsi zat toksin, sehingga menghasilkan gejala alergi, demam, sakit kepala dan lain-lain. Cacing daun yang hidup di rongga usus biasanya tidak memberi gejala atau hanya gejala gastrointestinal ringan seperti mual, muntah, sakit perut dan diare. Bila cacing hidup dijaringan paru seperti Paragonimus, mungkin menimbulkan gejala batuk, sesak napas dan mungkin terjadi batuk darah (hemoptisis). Cacing yang hidup di saluran empedu hati seperti Clonorchis, Opisthorchis, dan Fasciola dapat menimbulkan rangsangan dan menyebabkan peradangan saluran empedu, dapat menyebabkan penyumbatan aliran empedu sehingga menimbulkan gejala ikterus. Akibat lainnya adalah peradangan hati sehigga terjadi hepatomegali. Cacing Schistosoma yang hidup di pembuluh darah, ternyata terutama telurnya menimbulkan kelainan yang berupa peradangan, pseudo-abses dan akhirnya terjadi fibrosis jaringan alat yang diinfiltrasi oleh telur cacing ini, seperti dinding usus, dinding kandung kemih, hati, jantung, otak dan lain-lain.

3.  Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis dibuat dengan menemukan telur dalam tinja, dahag, urin atau dalam jaringan biopsi, dapat pula dengan reaksi serologi untuk membantu menegakan diagnosis. Obat yang terbaik untuk mencegah cacing daun adalah prazikuantel (Biltricide, Distocide).